Religi  

Jombang “Perang” Melawan Putus Sekolah, 6.421 Anak Jadi Prioritas Utama di 2026!

Oplus_131072

MMCNEWS.ID | Masalah Anak Tidak Sekolah (ATS) masih menjadi tantangan besar di Kabupaten Jombang. Berdasarkan data terbaru per 3 Maret 2026, tercatat sebanyak 6.421 anak di “Kota Santri” ini tidak mengenyam bangku pendidikan. Angka yang cukup mencolok ini kini menjadi “Alarm Merah” bagi Pemerintah Kabupaten Jombang.

Menyikapi hal tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang bergerak cepat dengan menggelar Rapat Koordinasi Strategis ATS 2026 di Aula 1 Disdikbud, Selasa (3/3/2026).

Pertemuan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya konsolidasi besar-besaran lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Sekretaris Disdikbud Jombang, Abdul Majid, dalam pembukaannya menegaskan bahwa memutus rantai putus sekolah adalah kerja tim, bukan kerja individu satu dinas saja.

“Permasalahan ATS tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor agar program wajib belajar 13 tahun dapat berjalan optimal dan tepat sasaran,” tegas Abdul Majid di hadapan para perwakilan OPD.

Dalam forum tersebut, terungkap fakta di lapangan bahwa faktor ekonomi lokal tetap menjadi “kerikil tajam” yang menghambat anak-anak Jombang bersekolah. Kondisi finansial keluarga memaksa banyak anak untuk berhenti di tengah jalan atau bahkan tidak menyentuh sekolah formal sama sekali.

Poin-Poin Utama Hasil Rakor ATS 2026: Target Prioritas: Penanganan intensif bagi 6.421 anak yang terdata. Misi Utama: Memastikan transisi menuju standar wajib belajar 13 tahun. Sinergi OPD: Sinkronisasi data dan program bantuan sosial agar tepat sasaran bagi keluarga tidak mampu. Keberlanjutan: Pemantauan berkala agar angka ATS menurun secara signifikan setiap tahunnya.

Rapat koordinasi ini diakhiri dengan kesepakatan kuat: Tidak boleh ada anak Jombang yang tertinggal. Pemerintah Kabupaten Jombang berjanji akan terus mendorong pemerataan akses pendidikan sehingga setiap anak mendapatkan hak belajar yang layak dan berkelanjutan.

Dengan sinergi yang lebih erat, diharapkan angka 6.421 tersebut bukan sekadar statistik yang meresahkan, melainkan titik balik bagi perubahan besar pendidikan di Jombang.

Reporter: Adi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *