Religi  

Hasil Lab Keluar! “Racun” di Balik Tumbangnya 31 Santri Jombang Terungkap

Oplus_131072

MMCNEWS.ID | Misteri tumbangnya puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, akhirnya terungkap.

Hasil uji laboratorium mengungkap fakta mengerikan, para santri tidak hanya terpapar zat kimia berbahaya pada makanan, tapi juga mengonsumsi air yang tercemar.

Kepala Dinas Kesehatan Jombang Hexawan Tjahja Widada mengatakan nitrit ditemukan dalam sampel telur asin yang dikonsumsi para santri.

“Normalnya makanan tidak mengandung nitrit. Dampaknya bisa memicu mual, muntah, hingga gangguan pencernaan secara mendadak,” ujar Hexawan, Rabu (18/3/2026).

Selain itu, pemeriksaan juga menemukan kadar bakteri E. coli pada air yang digunakan di pondok cukup tinggi. Air tersebut dipakai untuk memasak hingga mencuci.

“Harusnya nol. Tapi ini mencapai 1.030 sampai 2.030 per mililiter. Itu berisiko menyebabkan sakit perut, mual, dan nyeri perut,” kata Hexawan.

Dari hasil uji lain, sampel muntahan santri juga mengandung bakteri Bacillus cereus. Namun, Dinkes belum dapat memastikan sumber pasti bakteri tersebut karena tidak semua makanan diuji.

“Fokus pemeriksaan pada telur asin, rawon, air, dan sampel muntahan,” jelasnya.

Hexawan menyebut telur asin diduga menjadi pemicu utama karena mengandung nitrit. Meski begitu, tidak semua santri yang mengonsumsi telur asin mengalami gejala keracunan.

“Yang menyebabkan intoleransi makanan diduga telur asin itu. Tapi tidak semua yang makan mengalami gejala. Kemungkinan ada perbedaan kualitas atau distribusi makanan,” paparnya.

Ia menduga kandungan nitrit muncul akibat proses penyimpanan yang kurang baik atau kualitas bahan baku yang tidak terkontrol.

“Bisa jadi karena penyimpanan terlalu lama atau sumber bahan berbeda. Ini perlu evaluasi pada pengadaan bahan baku,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Dinkes Jombang telah memberikan pembinaan kepada pihak pondok, terutama terkait peningkatan sanitasi dan perbaikan sistem filtrasi air.

“Kami minta sanitasi ditingkatkan. Filter air perlu diperbaiki agar kandungan E. coli bisa ditekan,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Jombang, Deni Setiawan, mengatakan pihaknya telah menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan (SPPG) yang terlibat.

“Kami sudah lakukan suspend sebagai langkah awal. Ke depan, kami dorong perbaikan kontrol, baik dari sisi pondok maupun penyedia makanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap SPPG di Jombang akan diperketat, meski diakui masih terkendala keterbatasan tenaga.

“Pengawasan tetap berjalan, tapi memang personel terbatas. Kami berharap ke depan quality control bisa lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang,” kata dia.

Reporter: Adi

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *